DILIHAT dari luar maupun dalam, rumah ini terlihat tua dan lawas. Maklum, rumah yang berlokasi di Kampung Slembaran, Kalurahan-Kecamatan Serengan, Kota Solo, Jawa Tengah, ini memang dibangun menjelang 1970, atau lebih dari 40 tahun silam.
Bagaimana saya bisa tahu? Tentu saja saya tahu, karena saya dibesarkan di rumah tersebut. Saya ingat, misalnya, papi saya disemayamkan di sana pada 1972 silam saat sedo (meninggal). Sebelumnya, dia beberapa hari dirawat di rumah sakit karena sakit tetanus gara-gara salah satu telapak kakinya terkena benda tajam berkarat saat terjadi kebakaran kecil sewaktu papi memasak tinta untuk keperluan percetakannya. (Papi saya adalah guru sebuah SMA negeri di Solo, yang juga pengusaha percetakan).
Saya juga ingat, pada zamannya, rumah yang dibangun papi saya tersebut merupakan rumah bagus di kampung kami. Di bagian belakang bangunan utama ada bangunan tambahan, yang dipakai untuk pabrik batik, dan juga percetakan.
Saya masih ingat pula, di dalam rumah tersebut pernah terdapat sebuah televisi hitam-putih ukuran 12 inchi, kalau tak salah bermerek Toshiba. Kala itu televisi merupakan barang mewah, dan pemiliknya di kampung-kampung dapat dihitung dengan jari.
Kini, rumah di atas tanah seluas sekitar 700 meter persegi itu tampak tua. Meski beberapa kali diperbaiki, tetap saja upaya perbaikan tersebut tak mampu menutupi usia sebenarnya dari rumah yang bernuansa teduh itu : berumur lebih dari 40 tahun.
Lihat, misalnya, kolam ikan di depan teras rumah. Meski telah dihiasi beberapa tumbuhan, kolam tersebut tampak kusam. Apalagi dinding di atas kolam pun telah rompal di sana-sini, membuat kesan kusam semakin bertambah.
Halaman depan rumah pun sami mawon. Semen di halaman tersebut pecah-pecah. Pintu pagar besi di bagian depan rumah juga terlihat ringkih. Jauh berbeda dengan rolling door rumah di seberang jalan, yang terlihat kokoh, modern, dan baru….
Meski demikian, bukan berarti rumah peninggalan papi dan mami saya tersebut telah menjadi rumah bobrok. Sama sekali tidak. Rumah tersebut tetap layak pakai. Bagian dalam rumah, meski terlihat tua, masih tetap relatif bagus.
Kamar mandi pun telah ditambah, di dalam rumah bagian belakang. Kamar mandi berporselin. Adapun kamar mandi dan WC asli —dengan bentuk sederhana— ada di halaman belakang rumah, digunakan untuk sebuah keluarga yang mengontrak bangunan kecil di bagian belakang-barat rumah tersebut.
Siapa yang menghuni rumah itu, setelah sepasang orangtua kandung kami meninggal, dan enam anaknya mentas alias menikah? Rumah tersebut dipakai adik perempuan saya, yang mentas tetapi belum dikarunai anak. Adik saya bekerja sebagai manajer sebuah perusahaan tekstil, sedangkan suaminya membuka warnet dan jasa fotocopi. Sehari-hari mereka ditemani dua remaja lanang, yaitu Okky alias Opi (anak saya, yang duduk di kelas 2 SMA) dan Jibran (anak adik saya, yang duduk di kelas VI SD).
Adik saya dan suaminya hanya penghuni sementara rumah tua-yang-bagus -pada-zamannya-itu. Pasalnya, semua anak papi dan mami —dengan alasan yang masuk akal— sepakat menjual rumah tersebut. Bahkan sudah sejak sekitar setahun lalu kami menawarkan rumah itu, namun belum ada pembeli yang cocok. Maka, hanya soal waktu, dan rumah tersebut akan tinggal menjadi kenangan.




Lacak Balik
[...] Saat masa liburan Lebaran, Sachi dan Ino —bersama papa dan mama mereka— menginap di rumah peninggalan orangtua saya, di Kampung Slembaran, Serengan, Solo, Jawa Tengah. Ino sedang lelap tidur [...]
[...] yang terlihat tua ini sudah berganti pemilik. Setelah bertahun-tahun ditawarkan diam-diam —tanpa melalui iklan dalam bentuk apapun— akhirnya rumah di Jalan Sadewa No 23 di [...]